...Kisah Lengkap Nabi Muhammad SAW, Manusia Terbaik Sepanjang Masa...
Kisah Nabi Muhammad SAW – Kawan-kawan
semua pasti sudah mengenal nabi Muhammad SAW bukan? Bahkan di Indonesia
Nama Muhammad banyak dijadikan nama yang diberikan oleh orang tua
kepada anaknya. Luar biasanya lagi, Nabi Muhammad SAW juga dinobatkan
sebagai manusia yang paling berpengaruh di dunia. Nabi Muhammad
SAW merupakan penutup para nabi yang diutus Allah untuk menyempurnakan
Akhlak Para Manusia. Nabi Muhammad SAW adalah pembawa rahmat untuk
seluruh alam dan merupakan Rasulullah bagi seluruh umat di dunia.
Sesungguhnya Nabi Muhammad S.A.W merupakan satu anugerah dan kurniaan
Allah SWT kepada umat manusia untuk menunjukkan jalan yang lurus dan
benar. Berikut ini akan penulis ulas secara singkat terkait perjalanan hidup nabi Muhammad dari mulai kelahiran hingga wafatnya nabi Muhammad.
Tentu saja banyak kisah-kisah lainnya yang tidak cukup dibahas disini,
maka dianjurkan pembaca membaca referensi lebih dalam apabila ingin
mengetahui lebih banyak tentang perjalanan nabi Muhammad SAW.
Kisah Lengkap Nabi Muhammad SAW
-
Kelahiran Nabi Muhammad SAW
Kelahiran Nabi Muhammad SAW
– Nabi Muhammad dilahirkan di Mekah dan kembali ke rahmatullah di
Madinah. Nabi Muhammad S.A.W merupakan Rasul dan Nabi terakhir bagi umat
manusia dan seluruh alam. Nabi Muhammad merupakan pelengkap ajaran
Islam. Beliau juga digelar Al Amin (الأمين) yang bermaksud ‘yang
terpuji’. Nabi Muhammad SAW adalah anak dari Abdullah bin Abdul
Muttalib. ibunya bernama Aminah binti Wahab. Nabi Muhammad SAW lahir
pada hari Senin, 12 Rabi’ul Awwal tahun Gajah (atau, 20 April 571
Masehi). Dinamakan tahun Gajah, karena ketika beliau lahir, kota Makkah
diserbu oleh Raja Abrahah dan tentaranya dari negeri Habasyah dengan
bala tentaranya menunggang gajah. Mereka hendak menghancurkan Ka’bah
karena iri hati terhadapnya. Tetapi Allah melindungi bangunan suci itu
dan seluruh penduduk Makkah, dengan menjatuhkan batu-batu Sijjil (dari
neraka) melalui burung-burung ababil.
Ketika Nabi Muhammad SAW. masih. di
dalam kandungan ibunya, Abdullah, ayahnya, pergi ke negeri Syam (Siria)
untuk berdagang. Tetapi, sepulang dari sana, ketika sampai di kota
Madinah, ia menderita sakit dan wafat dalam usia 18 tahun. Abdullah
dimakamkan di kota Madinah. Maka, Nabi Muhammad SAW dilahirkan ke dunia
dalam keadaan yatim. Setelah beberapa bulan dari wafatnya sang ayah
berlalu, Nabi pamungkas para nabi lahir di bulan Rabi’ul Awal, tahun 571
Masehi di Makkah, dan dengan kelahirannya itu, dunia menjadi
terang-benderang. Sesuai dengan kebiasaan para bangsawan Makkah,
ibundanya menyerahkan Muhammad kecil kepada Halimah Sa’diyah dari
kabilah Bani Sa’d untuk disusui.
Kemudian setelah 4 tahun berselang, nabi
Muhammad diserahkan kembali kepada ibunya. Pada usia 6 tahun (48 SH),
beliau diajak oleh ibunya berziarah ke makm ayahnya dan berziarah ke
keluarganya dari Bani Adiy. Dalam perjalanan pulang ketika sampai di
Abwa sebuah dusun yang berdekatan dengan Madinah, ibunya sakit dan tidak
lama kemudian dalam perjalanan itu ibunya meninggal dunia.
-
Masa Kecil Nabi Muhammad SAW
Masa Kecil Nabi Muhammad SAW
Pada masa kecilnya, nabi Muhammad SAW
bekerja sebagai pengembala kambing, hal ini memberikan tempaan kepada
nabi Muhammad untuk melihat alam yang luas membentang, langit yang
terbuka dan alam sekitarnya untuk ia renungkan sejak masa kecilnya.
Setelah menjadi yatim piatu, Akhirnya
nabi Muhammad SAW diasuh oleh kakeknya yang bernama Abdul Muthallib.
Dalam masa-masa itu beliau menjadi penggembara kambing milik kakeknya.
Namun rupanya usia Abdul Muthallib semakin tua dan sudah mendekati
ajalnya, Abdul Muthallib wafat pada saat usianya 8 tahun (46 SH),
sebelum wafat beliau menyerahkan nabi Muhammad kepada Abu Thalib untuk
diasuhnya sebagai anaknya sendiri.
Abu Thalib menjadi pengasuh setia bagi
Nabi Muhammad, diajaknya beliau berdagang ke Syam. Dilewatinya
perjalanan dagang yang telah dilewati ayahnya, dan menikmati perjalan
itu dengan membuktikan cerita-cerita orang yang telah didengarnya.
Ditengah perjalanan ia berjumpa dengan seorang Rahib Buhaira yang
bernama nastur, melihat tanda-tanda kenabian padanya, bahwa akan datang
suatu hari kelak para pedagang dari arah selatan yang akan membawa
seorang anak yang akan menjadi Nabi akhir zaman, lalu ia berkata kepada
Abu Thalib: ”Sesungguhnya anak ini akan memiliki urusan besar”.
Baca Juga Biografi: Kisah Nabi Nuh AS, Pembuat Kapal Terbaik Sepanjang Masa
-
Nabi Muhammad SAW Berdagang ke Negeri Syam
Nabi Muhammad SAW Berdagang ke Negeri Syam
Setelah Nabi Muhammad SAW berusia hampir
25 tahun, Abu Thalib, paman beliau merasa bahwa nabi Muhammad telah
cukup dewasa. Maka dipanggilnya Nabi Muhammad, lalu ditawarkanlah
kepadanya suatu pekerjaan yang menguntungkan, seraya berkata: “Wahai
anakku, sesungguhnya kita bukanlah keluarga yang berkecukupan. Bahkan,
kurasakan akhir-akhir ini kebutuhan kita semakin sulit didapat. Alangkah
baiknya jika engkau pergi kepada Khadijah untuk meminta izinnya membawa
barang-barang dagangannya ke negeri Syam. Mudah-mudahan dari usaha itu
engkau akan beroleh keuntungan yang besar.”
Nabi Muhammad SAW menyetujui usul
pamannya, sebab beliau memaklumi sepenuhnya akan kesulitan yang dihadapi
pamannya itu dalam menanggung beban belanja rumah tangganya. Segera
beliau pergi kepada Siti Khadijah untuk meminta izinnya memperdagangkan
barang-barangnya. Siti Khadijah adalah seorang janda kaya di Makkah. la
dikenal sebagai wanita Quraisy yang mulia karena keturunan dan
akhlaknya. la adalah wanita budiman, gemar membantu sesamanya, dan
senantiasa menjaga kehormatan dirinya, sehingga mendapat gelar At-Thahirah (Wanita Suci).
Menanggapi permohonan Nabi Muhammad SAW,
Siti Khadijah tanpa pikir panjang langsung menyambutnya dengan senang
hati, karena ia telah cukup mengenal Nabi Muhammad SAW sebagai pemuda
yang ramah , jujur, clan sopan-santun. Maka berangkatlah Nabi Muhammad
SAW ke negeri Syam, ditemani oleh Maisarah, budak Siti Khadijah. Pulang
dari Syam, Nabi Muhammad memperoleh keuntungan amat besar, yang belum
pernah dicapai oleh para pedagang lain.
-
Pernikahan dengan Khadijah
Pernikahan dengan Khadijah
Siti Khadijah amat kagum terhadap pemuda
bernama Muhammad. Lebih-lebih ketika ia mendengar sendiri dari
Maisarah, bagaimana agungnya perangai Nabi Muhammad selama di perjalanan
maupun ketika berdagang. Maka berubahlah rasakagum itu menjadi rasa
cinta. Maka dinyatakanlah oleh Khadijah keinginannya untuk meminta Nabi
Muhammad menjadi suami baginya. Sedangkan khodjah saat itu berumur 40
tahun. Saat keinginan Khodijah disampaikan kepadanya, beliau mengatakan
tidak memiliki apa-apa untuk perkawinan. Maysarah mengatakan bahwa
Khodijah memintanya untuk menjadi suaminya. Maka akhirnya menikahlah
beliau dengan Khodijah dengan selisih umur yang cukup jauh (28 SH/ 595
M). Perkawinan beliau dengan Khodijah membuahkan anak-anak: Qosim,
Ruqayyah, ummi Kultsum dan Fatimah, yang kesemuanya wafat kecuali hanya
satu saja yang hidup, yakni Fatimah.
Baca Juga Biografi: Kisah Nabi Idris AS, Sebuah Nasihat yang Menggugah
-
Cerita Batu Hajar Aswad dan Gelar Al’amin
Cerita Batu Hajar Aswad dan Gelar Al’amin
Cerita Batu Hajar Aswad dan Gelar Al’amin – Ketika
Nabi Muhammad berusia 35 tahun, di Makkah terjadi bencana banjir
sehingga merusakkan sebagian dinding Ka’bah. Setelah usai bencana, kaum
Quraisy beramai-ramai memperbaiki dinding Ka’bah yang runtuh itu. Pada
saat pekerjaan telah selesai, tinggal Hajar al-Aswad (batu hitam) yang
mesti dikembalikan di tempatnya semula, terjadilah perselisihan di
antara mereka. Masing-masing suku ingin memperoleh kehormatan dengan
meletakkan Hajar al-Aswad itu di tempatnya. Hampir saja terjadi
pertumpahan darah di antara merreka. Tetapi, tiba-tiba salah seorang
berkata: “Wahai kaumku, janganlah kalian saling bermusuhan karena ini.
Sebaiknya kita tunggu saja esok pagi, siapa yang pertama kali datang ke
pintu Masjid ini, dialah yang berhak mengambil keputusan.”
Pagi-pagi keesokan harinya, kaum Quraisy
mendapati bahwa orang yang pertama kali masuk ke pintu Masjid adalah
Nabi Muhammad s.a.w. Maka bersoraklah mereka menyambutnya, karena
mereka yakin akan kejujuran pemuda Muhammad. Jadilah Nabi Muhammad
s.a.w. sebagai hakim yang memutuskan perkara Hajar al-Aswad itu.
Nabi Muhammad s.a.w. kemudian
menggelarkan kain surbannya di atas tanah dan meletakkan Hajar al-Aswad
di atasnya. Lalu, kepada masing-maing kepala suku, beliau memerintahkan
untuk memegang tiap-tiap ujung kain itu dan mengangkatnya. Sampai
diatas, beliau lalu mengangkat batu suci dengan tangannya sendiri, dan
meletakkannya di tempatnya semula. Dengan cara itu, seluruh kaum Quraisy
merasa puas, dan berseru: “Kami rela atas keputusan yang dibuat oleh
orang yang dipercaya ini!”
Sejak itu, Nabi Muhammad s.a.w. mendapat gelar “Al-Amin”, artinya “Yang Dipercaya”.
-
Menerima Wahyu Pertama
Menerima Wahyu Pertama
Saat usia beliau menginjak 35 tahun,
Muhammad sering mengasingkan diri keluar kota Mekkah agar lebih tenang
dan dapat berfikir jernih. Sebagai seorang yang sangat peduli dengan
lingkungannya dan bangsanya, Muhammad ingin melakukan sesuatu agar
kerusakan moral yang terjadi di kalangan masyarakat Arab tak terus
berlanjut. Namun beliau sendiri bingung harus memulai dari mana. Tempat
yang beliau pilih untuk merenung dan berfikir adalah Gua Hira’.
Akhirnya pada saat usia Muhammad 40
tahun disuatu malam saat beliau sedang khusyuk berdoa pada sang Khalik,
muncullah cahaya putih yang tak lain adalah malaikat Jibril dan berkata
“Iqra’” yang berarti “Bacalah” dan Muhammad menjawab aku tak bisa
membaca. Memang Nabi Muhammad adalah seorang yang Umi atau buta huruf.
Karena saat itu sangat jarang sekali orang yangbisa membaca dan menulis
jika bukan seorang yang khusus mempelajari syair dan sastra. Orang yang
tidak bergulat dibidang syair jarang yang bisa membaca dan menulis.
Lalu Jibril mengatakan lagi “Iqra’” dan
Muhammad menjawab aku tak bisa membaca. Kemudian Jibril mendekat dan
merangkul Muhammad yang saat itu sedang ketakutan karena didatangi orang
asing dan berkata padanya untuk yang ketiga kalinya “Iqra’
bismirabbikalladzii Khalaq…” Itu adalah surat AL-‘Alaq ayat 1-5 yaitu
wahyu yang pertama kali turun pada Muhammad dan resmilah saat itu yaitu
malam 17 Ramadhan Muhammad diangkat oleh Alloh menjadi Rasulnya.
Berikut ini adalah bunyi wahyu pertama “Bacalah dengan menyebut
nama Tuhanmu yang menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah,
dengan nama Tuhanmu yang Maha Pemurah, yang mengajar manusia dengan
perantaraan (menulis, membaca). Dia mengajarkan kepada manusia apa yang
tidak diketahuinya.” (Al-Alaq 96: 1-5)
Nabi Muhammad sangat gugup menerima
wahyu itu, dan berulang-ulang malaikat Jibril memerintahkan kepadanya
untuk membaca. Sampai akhirnya dieja bacaannya satu demi satu, hingga
sempurna bacaan itu. Kemudian nabi Muhammad pulang ke rumahnya. Khodijah
amat terkejut melihat suaminya menggigil dan badannya basah oleh peluh
keringatnya. Beliau minta Khodijah menyelimutinya. Dan tiba-tiba
Malaikat Jibril kembali datang kepadanya. Dalam keadaan berselimut itu
datanglah malikat Jibril menyampaikan wahyu kedua yang artinya:
“ hai orang yang berselimut! Bangunlah
dan beri peringatan! Besarkanlah Nama Tuhanmu, bersihkanlah pakaianmu
dan jauhilah perbuatan Maksiat, janganlah kamu member karena ingin
memperoleh yang lebih banyak. Dan hendaklah kamu bersabar untuk memenuhi
perintah Tuhanmu.” (Al- Muddatstsir: 1-7)
Dengan demikian jelaslah sudah, bahwa Muhammad diperintahkan menyampaikan Risalah-Nya. Yaitu menyembah Allah Yang Maha Esa.
-
Proses Dakwah Nabi Muhammad SAW
Proses Dakwah Nabi Muhammad SAW
Dakwah yang dilakukan oleh Rasulullah
terbagi kedalam 2 fase, fase yang pertama adalah dakwah secara
sembunyi-sembunyi, dimana Rasulullah berdakwah melalui keluarga dan
kerabat terdekat mendapat ajaran dan gemblengan keimanan dari Rasulullah
di rumah Arqam bin Abil Arqam. Pada fase ini agama Islam perlahan-lahan
mulai berkembang.
Pada fase yang kedua, yaitu fase secara
terang-terangan, Rasulullah mulai mensyi’arkan Islam lebih luas,
akibatnya banyak ancaman-ancaman serta intimidasi yang dialami oleh kaum
musilimin pada saat itu. Beberapa pengikut beliau Yang mendapat siksaan
dari orang kafir antara lain: Bilal bin Rabah, yaitu seorang budak
milik Ummayyah half. Bilal ditelentangkan di atas terik
matahari padang pasir, ditubuhnva ditindihkan batu besar. la dipaksa
supaya meninggalkan Islam namun is tetap teguh dan imannya bertambah
tebal. Bilal akhimya dibebaskan oleh Abu Bakar yang membelinya dari
Umayyah bin Khalf.
Baca Juga Biografi: Kisah Nabi Adam A.S, Cerita Penciptaan Manusia pertama
-
Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW
Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW
Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW – Selama
menyebarkan Islam, Nabi Muhammad selalu dimusuhi oleh kafir Quraisy.
Namun begitu para kafir Quraisy tak berani terlalu jauh dalam
memusuhinya karena Nabi Muhammad mendapat perlindungan dari pamannya
yaitu Abu Thalib seorang pemimpin Quraisy yang sangat disegani. Walau
Abu Thalib belum mengucap dua kalimat syahadat namun beliau sangat
mendukung dakwah Nabi dan selalu melindunginya dari orang kafir lainnya
yang mau menyakiti Nabi. Namun saat Abu Thalib wafat, dan pemimpin
Quraisy dari bani Hasyim beralih ke yang lain, saat itu juga
perlindungan terhadap Muhammad dicabut dan semakin menjadi-jadilah orang
kafir memusuhi Muhammad dan orang Islam lainnya.
Satu lagi pelindung Muhammad dalam
berdakwah adalah Khadijah, istri Nabi sendiri. Sudah disebutkan diatas
bahwa Khadijah bukanlah wanita sembarangan, beliau adalah wanita yang
terhormat, kaya-raya dan memiliki pengaruh di kalangan orang Makkah.
Dengan harta dan kedudukannya sebagai bangsawan tersebut Khadijah selalu
membela Nabi dari kejahatan para kafir Quraisy yang ingin menyakiti dan
membunuh Nabi. Namun saat Khadijah wafat bertambah sedihlah hati Nabi,
sudah tak ada lagi orang-orang dekat yang selalu melindungi dan
mendukungnya.
Tahun dimana Khadijah dan Abu Thalib
wafat yang berada di tahun yang sama membuat Nabi merasa sedih begitu
mendalam, tahun ini disebut tahun kesediahan atau Amul Husna. Allah SWT
mengerti kesedihan yang dirasakan oleh Nabi Muhammad SAW, lalu pada
suatu malam, tanggal 27 Rajab setahun sebelum Nabi Hijrah ke Madinah,
Nabi didatangi malaikat Jibril. Malaikat Jibril kemudian mengajak Nabi
menaiki Buroq. Nabi kemudian diterbangkan menuju Baitul Maqdis atau
Masjidil Aqsa di Palestina (Isra’) lalu naik ke Sidratul Muntaha atau
langit ke tujuh (Mi’raj). Di sana Nabi menerima perintah shalat lima
waktu langsung dari Alloh.
Dalam perjalanan spiritual ini Nabi
benar-benar merasa di cash kembali oleh Allah setelah kesedihan yang
dialaminya dan semakin bersemangat dalam berdakwah. Dalam perjalanan itu
Nabi juga bertemu dengan Rasul-Rasul terdahulu serta diperlihatkan
Surga dan Neraka. Setelah pulang dari perjalanan, Nabi pun menceritakan
pada sahabatnya, awalnya banyak yang heran namun karena Nabi terkenal
tak pernah berbohong maka sahabat langsung mempercayainya dan semakin
bertambah keimanannya. Sahabat yang pertama kali mempercayai Isra’
Mi’raj adalah Abu Bakar dan dari sinilah beliau diberi gelar As Sidiq
yang artinya “yang mempercayai”.
-
Hijrah Ke Madinah
Hijrah Ke Madinah
Mekkah dianggap sudah tidak aman lagi
bagi Rasulullah dan pengikutnya, sementara di satu sisi orang-orang
Madinah atau Madinah setiap hari semakin banyak yang masuk islam dan
merindukan beliau hadir di tengah-tengah mereka.Maka Rasulullah
memerintahkan para pengikutnya untuk hijrah ke Madinah. Berangkatlah
para pengikut Nabi, secara diam-diam ke madinah, mereka ikhlas
meninggalkan harta benda dan rumah-rumah mereka demi memenuhi perintah
Rasul. Sedang Rasulullah dan Abu Bakar akan menyusul di belakang hari.
Kabar tentang hijrah itu segera tercium
oleh kaum kafir Qurais mereka sepakat untuk membunuh Rasulullah. Namun
rencana mereka gagal. Allah melindungi Rasul-Nya. Setelah melalui
berbagai rintangan sampailah Rasulullah di desa Quba yaitu sebuah tempat
jaraknya 10 Kilometer dari Madinah. Di Quba beliau mendirikan masjid,
maka hingga sekarang masjid tersebut dinamakan Masjid Quba. Inilah
masjid yang pertama kali di bangun umat Islam. Setelah empat hari
beristirahat di Quba beliau meneruskan perjalanannya ke Madinah. Di sana
beliau disambut dengan hangat oleh para pengikutnya yang telah lama
merindukan kedatangannya.
-
Kemenangan Umat Islam

Kemenangan Umat Islam
Ternyata dari Madinah Inilah Rasulullah
dapat menyusun kekuatan dan membina masyarakat Islam dengan sempunna.
Madinah kemudian diubah namanya menjadi Madinatun Nabawi atau kemudian disebut Madinah.
Di Madinah ini beliau membentuk angkatan perang dan membina strategi
perang. Sejarah kemudian mencatat bahwa Muhamad strategi perang. hanya
seorang Nabi dan Rasul tapi juga seorang Kepala Negara. ahli tata
masyarakat, Panglima Perang yang tangguh dan seorang ayah yang pastas
diteladani oleh putra-putrinya.
Sesudah terjadi Perang Badar, perang
Uhud dan peperanglainnya. akhirya Mekkah pun jatuh dalam kekuasaan
beliau. Dengan jatuhnya Mekkah, maka hampir dekatlah tugas kerasulan
beliau.
-
Nabi Muhammad SAW Wafat

Makan Rasulullah Muhammad SAW
Setelah melaksanakan haji wada’, pada
tanggal 12 Maulud hari Senin tahun 11 Hijriyah beliau wafat meninggalkan
umatnya. Dalam penanggalan Masehi bertepatan dengan tanggal 8 Juni 632
dalam usia 63 tahun. Beliau dimakamkan di Madinah. Hingga sekarang
makamnya selalu ramai diziarahi umat Islam dari seluruh dunia ketika
mereka melaksanakan ibadah haji dan umrah. Beliau meninggalkan wasiat
yang berharga bagi seluruh pengikut beliau. Warisan beliau bukanlah
warisan berupa harta dan benda. Beliau hanya meninggalkan dua perkara
yaitu Al-Qur’an dan As-Sunnah. Barang siapa umatnya yang tetap berpegang
teguh pada Al-Qur’an dan Al-Hadits maka mereka tidak akan pernah
tersesat selama-lamanya.
MasyaAllah, itulah cerita singkat
tentang manusia yang paling mulia di muka bumi ini. Semoga kita
senantiasa dapat meneladani sifat-sifat dan teladan dari nabi Muhammad
SAW. Yuk sahabat, mari kita perbanyak bershalawat kepada beliau agar
kita tergolong manusia yang diberi syafaat oleh Nabi Muhammad SAW di yaumil akhir nanti. Aamiin.
Sumber : http://www.muslimkece.net/2016/03/kisah-lengkap-nabi-muhammad-saw-manusia-terbaik-sepanjang-masa.html